Kamis, 14 Mei 2009

Etos Kerja Kristen

Sabtu, 2009 Mei 02

Etos Kerja Kristen

ETIKA DALAM BEKERJA

Pendahuluan

Apa sebenarnya etika ker­ja? Kalau di Alkitab dikaitkan antara jangan mencuri dengan pe­­­­­kerjaan baik, berarti disini kita me­lihat adanya etika kerja di dalam kerja. “Orang yang men­­­curi, janganlah ia mencuri lagi tetapi baik­lah ia bekerja keras, dan melakukan pekerjaan baik de­­­­ngan tangannya sen­diri, supaya ia da­pat membagikan sesuatu kepada orang yang berkeku­rang­­­an.”Efesus 4:28, maka, disini saya merasakan pentingnya kita lebih ta­jam lagi melihat bagaimana etika da­lam satu kehidupan itu merupakan satu kemutlakan. Dan ka­­lau kita masuk di dalam sa­tu etos ker­­ja maka etika kerja merupakan syarat mutlak yang ti­dak boleh ditiadakan atau menjadi hete­ro­nom (tidak boleh tergantung pada individu). Ketika saudara mengabaikan tuntutan etika dan mo­ral­itas da­lam hidup saudara, itu akan menjadi ekses saudara menghancurkan orang lain dan yang pa­­­ling pa­rah menghancurkan diri sendiri tanpa disadari. Etika sekarang justru digeser menjadi eti­ka relatif, yaitu baik dan jahatnya jika hal itu diperhitungkan merugikan orang lain. Se­lama tidak me­­­­­­rugikan orang lain maka seolah-olah itu menjadi hak kita un­tuk me­la­kukan dan mengembang­kan apa saja. In­do­ne­sia ha­­­ri ini me­ngalami kerusakan seperti ini karena kita tidak mempunyai mo­­­­­­ralitas dan ke­mu­tlak­an hu­kum. Etika tidak boleh dipermainkan. Etika merupakan satu tuntutan yang mut­lak ha­­rus kita kerjakan karena etika menyangkut tata hidup seseorang yaitu ba­gai­ma­na ia hidup be­­­­relasi dengan sesama, alam dan Tuhan. Ketika kita hidup di dalam sa­tu ta­tan­an nor­ma etika ma­­ka disitu dapat dan mutlak akan terjadi perbedaan kon­sep dan per­sep­­si ka­re­na ada dua pihak yang akan mencapai satu tuntutan etika yang ber­beda. Dan ka­lau kita berdiri diatas satu re­lati­fi­tas kon­sep dimana re­­lasi ha­rus terjadi di dalam kon­sep etika ma­ka mau tidak mau kita harus mem­­­­­pu­nyai stan­dar mut­lak dan ada satu kemutlakan se­jati yang ha­rus kita terima. Yang berhak me­­­­­nentukan saudara baik atau jahat bukanlah manusia tetapi harus firman yang menghakimi dan men­jadi patokan da­ri semua unsur serta penilaian etika yang harus di­ker­ja­kan di tengah dunia (lihat contoh sair lagunya Titik Puspa – Kupu-kupu Malam – Dosakah yg dia kerjakan sucikah mereka yang datang ...)

Firman Tuhan telah memberikan beberapa arahan yang penting kepada semua karyawan Kristen, yaitu mereka yang bekerja pada orang lain. Sebagai seorang karyawan Kristen kita harus mengerti dan mentaati semua petunjuk-petuhjuk firman Tuhan itu agar dapat menjadi karyawan yang membawa harum nama Kristus sehingga lingkungan di sekitar kita dapat dating kepada Tuhan Yesus.

Salah satu firman Tuhan yg ditujukan kpd karyawan Kristen adalah yg terdapat di dalam Kol. 3:22-25.

Hai hamba-hamba, taatilah tuanmu yang di dunia ini dalam segala hal, jangan hanya di hadapan mereka saja untuk menyenangkan mereka, melainkan dengan tulus hati karena takut akan Tuhan. Apa pun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia. Kamu tahu, bahwa dari Tuhanlah kamu akan menerima bagian yang ditentukan bagimu sebagai upah. Kristus adalah tuan dan kamu hambaNya. Barangsiapa berbuat kesalahan itu, karena Tuhan tidak memandang orang.

Pada dasarnya etika dalam bekerja menurut iman kristiani yang tertuang dalam 4 ayat di atas meliputi tiga hal pokok yang menyangkut:

· Bekerja dan diri sendiri: Apa pun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia.

· Bekerja dan lingkungan kerja: Hai hamba-hamba, taatilah tuanmu yang di dunia ini dalam segala hal, jangan hanya di hadapan mereka saja untuk menyenangkan mereka, melainkan dengan tulus hati karena takut akan Tuhan.

· Bekerja dan Tuhan: Kamu tahu, bahwa dari Tuhanlah kamu akan menerima bagian yang ditentukan bagimu sebagai upah. Kristus adalah tuan dan kamu hambaNya. Barangsiapa berbuat kesalahan, ia akan menanggung kesalahannya itu, krn Tuhan tidak memandang orang.

Perhatikanlah bahwa dunia kerja tidak dapat dipisahkan dari masalah keimanan (contoh konkritnya adalah Raja Hizkia 2 Tawarikh 29:1 – 32:33 karena ia melakukan apa yg baik, apa yg jujur, dan apa yg benar di hadapan Allah).

Jadi, sekalipun kita bekerja di dunia sekuler, kita diminta untuk melakukan pekerjaan kita seperti untuk Tuhan, menaati pimpinan dan peraturan perusahaan karena takut akan Tuhan, dan di dalam dunia kerja Kristus tetap tuan kita.

A. Bekerja Dan Diri Sendiri

Hal yang utama sehubungan dengan bekerja adalah bagaimana pandangan pekerja itu sendiri terhadap pekerjaannya dan bagaimana seharusnya ia bekerja. Bilamana kedua hal tersebut sudah dimengerti maka karyawan tersebut dapat dikatakan sudah mempunyai bekal yang baik untuk memulai pekerjaannya.

1. Bekerja untuk menumbuhkembangkan KEMANUSIAAN

Setiap karyawan Kristen harus memandang bekerja sebagai suatu anugerah yang indah dari Tuhan. Dengan bekerja kita dapat mengembangkan seluruh kemanusiaan kita untuk menjadi semakin sempurna. Kemanusiaan itu termasuk akal pikiran, kreativitas, bakat, keterampilan, perasaan, dll. Banyak karyawan gagal untuk memahami bahwa bekerja adalah sesuatu yang baik bagi dirinya, sebaliknya mereka menganggap bekerja adalah suatu beban yang harus dihindari. Itulah sebabnya tidak sedikit karyawan yang mengurangi beban pekerjaan mereka dengan cara yang salah. Karena mereka tidak menyukainya maka mereka menguranginya dengan cara mangkir atau mengurangi waktu kerja secara curang. Sebetulnya, mereka dapat mengurangi beban pekerjaan mereka dengan mengembangkan kemanusiaan mereka, yaitu mencari jalan yang lebih cerdas untuk menyelesaikan pekerjaan mereka.

2. Bekerjalah DENGAN SEGENAP HATI

Apa pun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia. (Kolose 3:23)

Melakukan sesuatu “dengan segenap hati” dapat diperluas artinya menjadi bekerja dengan segenap akal pikiran, dengan segenap kreativitas, dengan segenap ketrampilan, dan dengan segenap kesungguhan. Inilah cara kerja yang benar yang harus dikembangkan oleh setiap karyawan Kristen.

a. Segenap akal pikiran

Sebagai karyawan yang baik, kita harus mengerjakan pekerjaan kita dengan kualitas terbaik yang dapat kita berikan. Hal ini hanya dapat kita lakukan jika kita bekerja dengan menggunakan akal pikiran kita. Jangan malas untuk belajar pengetahuan baru yang dapat menunjang penyelesaian pekerjaan kita dengan kualitas yg baik. Sebagai seorang karyawan Kristen, kita harus mengem-bangkan diri agar dapat menunjang kita di dalam mengerjakan tugas2 yang harus diselesaikan. Tuhan memang berjanji untuk mengangkat kita menjadi kepala dan bukan ekor, tetap naik dan tidak turun, tetapi itu hanya terjadi jika kita memang mempersiapkan diri untuk itu. (Ul. 28:13).

Jangan pernah berpikir bahwa mengembangkan kemampuan kita adalah suatu beban tambahan. Justru sebaliknya, mengembangkan diri sangat berguna di dalam penyelesaian pekerjaan kita.

b. Segenap kreativitas

Pengetahuan yang diperoleh perlu diterapkan di dunia kerja kita. Hal ini memerlukan segenap kreativitas kita agar apa yang sudah dipelajari secara akal pikiran atau teori, dapat diterapkan secara nyata dan memberi hasil yang baik. Misalnya, kita sudah belajar computer. Itu sudah merupakan suatu langkah yang baik. Tetapi untuk membuat laporan dengan format yang baik, rapi, dan sesuai dengan kebutuhan, diperlukan suatu kreativitas tersendiri.

Jangan pernah puas hanya berpikir satu kali saja. Berpikirlah lebih kreatif. Pikirkanlah sekali lagi dan pikirkanlah lagi dan lagi sehingga kita mendapatkan yang terbaik. Belajarlah untuk berpikir lebih dalam dan lebih kreatif!

c. Segenap keterampilan

Memiliki pengetahuan dan kreativitas adalah modal yang sudah cukup baik, tetapi perlu ditambah-kan keterampilan, yaitu kecepatan atau kegesitan untuk bekerja. Dunia kerja tidak bisa menunggu orang yg kurang terampil, dunia kerja akan terus jalan dan pergi bersama dgn orang yang terampil.

HERAKLITUS, “untuk tetap berada di tempat dibutuhkan kemampuan berlari yg cepat”.

d. Segenap kesungguhan

Seseorang boleh mempunyai pengetahuan yang baik, kreativitas yang tinggi, kecepatan bekerja yg luar biasa, tetapi bilamana semua pekerjaannya tidak dikerjakan dengan sungguh dalam pengertian teliti dan cermat, maka semuanya akan sia-sia.

3. Batasannya adalah SEPERTI UNTUK TUHAN

Apa pun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia. (Kolose 3:23)

“Seperti untuk Tuhan” menjadi batasan di dalam melakukan pekerjaan kita, yaitu dengan segenap akal pikiran, segenap kreativitas, segenap keterampilan, dan segenap kesungguhan itu. Kita melakukan dan memberikan yang terbaik dari apa yang bias kita kerjakan. Disamping itu, kita melakukan pekerjaan kita dengan kasih tanpa punya pikiran yang jahat. Kita melakukannya dengan penuh sukacita tanpa cemberut dan sungut-sungut. Kita melakukannya dengan semangat tanpa malas-malasan. Kita melakukannya dengan penuh tanggung jawab dan bukan asal-asalan. Pokoknya, kita mengerjakan pekerjaan kita seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia.

B. Bekerja Dan Orang Lain

Pada umumnya di dalam bekerja kita akan berhubungan dengan banyak orang lain, entahkah itu sesama rekan kerja, bawahan, atasan, klien, pelanggan atau pemasok kita. Di dalam hubungan itulah diperlukan suatu etika dalam bekerja.

1. Menumbuhkembangkan KARAKTER

Hubungan kita dengan orang-orang lain di dalam dunia kerja sebenarnya membantu untuk menum-buhkembangkan karakter kita. Diperlukan kesabaran ketika beban datang bertubi-tubi. Diperlukan ketaatan di dalam menghadapi dengan pelanggan. Diperlukan kesopanan ketika berhadapan dengan orang-orang lain, sekalipun mereka adalah bawahan kita.

2. Bekerjalah dengan PRINSIP KETAATAN

Hai hamba-hamba, taatilah tuanmu yang di dunia ini dalam segala hal, jangan hanya di hadapan mereka saja untuk menyenangkan mereka, melainkan dengan tulus hati karena takut akan Tuhan. (Kolose 3:22)

Taatilah tuanmu! “Taat” adalah kata kunci untuk berbagai sikap yang harus dikembangkan ketika kita bekerja pada suatu perusahaan dan berhubungan dengan banyak orang. Kata “tuan” mewakili orang atau perusahaan di mana kita bekerja.

a. Taat pada peraturan

Hal yang paling sukar dilakukan oleh banyak orang dewasa ini adalah taat pada aturan. Sebagai karyawan Kristen kita harus menunjukkan nilai-nilai luhur yang telah diajarkan oleh Kristus dengan cara taat pada aturan. Dimulai dgn datang ke kantor tepat pada waktunya. Melakukan tugas2 sesuai dengan peraturan yang telah ditetapkan.

Kami juga menasihati kamu, saudara-saudara, tegorlah mereka yang hidup dengan tidak tertib, hiburlah mereka yang tawar hati, belalah mereka yang lemah, sabarlah terhadap semua orang. (1 Tesalonika 5:14).

Kami katakan ini karena kami dengar, bahwa ada orang yang tidak tertib hidupnya dan tidak bekerja, melainkan sibuk dengan hal-hal yang tidak berguna. Orang-orang yang demikian kami peringati dan nasihati dalam Tuhan Yesus Kristus, supaya mereka tetap tenang melakukan pekerjaannya dan dengan demikian makan makanannya sendiri. (2 Tesalonika 3:11-12).

b. Taat pada kebenaran

Ada banyak godaan di dalam dunia kerja yg mencoba menarik kita untuk berlaku tidak benar, baik karena rasa malas ataupun karena alasan untuk keuntungan diri sendiri. Sebagai murid Kristus yg mengusung kebenaran utk disajikan kepada dunia ini, adalah hal yg ironis jika justru orang2 Kristen tidak berlaku benar krn sifat mereka sudah sama dgn dunia ini, yaitu serakah, selalu mau mencari keuntungan diri sendiri di dalam setiap kesempatan. Mulai dari mencuri waktu kerja, korupsi / penggelapan, laporan fiktif, sampai kpd kebohongan / pemalsuan tanda tangan pada kartu absent.

Ketidakjujuran di dalam dunia kerja, selain mencoreng wajah Kristus juga akan menghambat karier kita. Janganlah termakan oleh perkataan banyak orang yg mengatakan “kalau jujur tidak biasa hidup di dunia ini”. Justru sebaliknya, dunia ini sedang mencari orang-orang yg jujur dan bisa dipercaya.

Hamba-hamba hendaklah taat kepada tuannya dalam segala hal dan berkenan kepada mereka, jangan membantah, jangan curang, tetapi hendaklah selalu tulus dan setia, supaya dengan demikian mereka dalam segala hal memuliakan ajaran Allah, Juruselamat kita. (Titus 2:9-10).

Siapa yang mau mencintai hidup dan mau melihat hari-hari baik, ia harus menjaga lidahnya terhadap yang jahat dan bibirnya terhadap ucapan-ucapan yang menipu. Ia harus menjauhi yang jahat dan melakukan yang baik, ia harus mencari perdamaian dan berusaha mendapatkannya. Sebab mata Tuhan tertuju kepada orang-orang benar, dan telingaNya kpd permohonan mereka yg minta tolong, tetapi wajah Tuhan menentang orang-orang yang berbuat jahat. (1 Petrus 3:10-12).

c. Taat pada pimpinan

Bentuk ketaatan kpd pimpinan adalah kepatuhan di dalam melakukan apa yang sudah diperintahkan kepada kita. Kepatuhan di sini adalah kepatuhan yang masih dalam koridor “takut akan Tuhan”. Sebagai orang Kristen kita tidak diajar untuk bertengkar atau berunjuk rasa kepada pimpinan kita. Kita wajib melakukan apa yg ditugaskan kepada kita sekalipun hal itu bertentangan dengan pikiran atau kehendak kita, sejauh hal itu hanya menyangkut cara-cara tetapi tidak bertentangan dengan kebenaran firman Tuhan. Kita harus belajar menyerahkan kehendak kita kepada mereka yg menjadi pimpinan kita. Hal ini tidak berarti kreativitas kita harus dihilangkan. Kita boleh mengajukan usul, gagasan dan ide-ide kreatif kita, tetapi bilamana gagasan itu ditolak dan digunakan gagasan yang lain, maka kita harus tetap tunduk untuk melakukannya.

Hai hamba2, taatilah tuanmu yang di dunia dengan takut dan gentar, dan dengan tulus hati, sama seperti kamu taat kepada Kristus, jangan hanya di hadapan mereka saja utk menyenangkan hati orang, tetapi sebagai hamba2 Kristus yg dengan segenap hati melakukan kehendak Allah, dan yang dengan rela menjalankan pelayanannya seperti orang-orang yang melayani Tuhan dan bukan manusia. Kamu tahu, bahwa setiap orang, baik hamba, maupun orang merdeka, kalau ia telah bebuat sesuatu yang baik, ia akan menerima balasannya dari Tuhan. (Efesus 6:5-8).

hai kamu, hamba-hamba, tunduklah dengan penuh ketakutan kepada tuanmu, bukan saja kepada yang baik dan peramah, tetapi juga kepada yang bengis. (1 Petrus 2:18).

Satu hal yang penting juga diutarakan oleh Rasul Paulus, jika pimpinan kita sama-sama orang percaya, janganlah kita jadi kurang hormat kepadanya karena merasa sama-sama anak Tuhan, justru sebaliknya kita harus lebih hormat. Di dunia kerja kita harus bersikap professional, tetap tunduk dan taat kepada pimpinan kita. Persaudaraan di dalam Kristus jangan sampai menghilangkan tanggung jawab kita sebagai seorang karyawan.

Semua orang yang menanggung beban perbudakan hendaknya menganggap tuan mereka layak mendapat segala penghormatan, agar nama Allah dan ajaran kita jangan dihujat orang. Jika tuan mereka seorang percaya, janganlah ia kurang disegani karena bersaudara dalam Kristus, melainkan hendaklah ia dilayani mereka dengan lebih baik lagi, karena tuan yang menerima berkat pelayanan mereka ialah saudara yang percaya dan yang kekasih. (1 Timotius 6:1-2a).

d. Taat pada tata karma

Seorang karyawan Kristen harus taat pada tata krama, yaitu tahu menempatkan dan membawa diri dengan sopan. Sikap terhadap semua orang harus sopan, terlebih terhadap pimpinan dan orang2 yg lebih tua. Memang ironis sekali sementara orang2 dunia belajar tentang kepribadian yg menarik dengan membayar mahal, justru orang2 kristen yang telah mempunyai pelajaran tersebut di dalam Alkitab, belum terlihat tertarik untuk mempelajari dan menerapkannya di dalam kehidupan mereka. Jadilah orang yang sopan dan menyenagkan semua orang.

Marilah kita hidup dengan sopan, seperti pada siang hari, jangan dlm pesta pora dan kemabukan, jangan dalam percabulan dan hawa nafsu, jangan dalam perselisihan dan iri hati. (Roma 13:13).

Kasih itu sabar; kasih itu murah hati; ia tidak cemburu. Ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong. Ia tidak melakukan yang tidak sopan dan tidak mencari keuntungan diri sendiri. Ia tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain. (1 Korintus 13:4-5).

e. Taat pada janji

Taat kepada janji berbicara soal dapat menepati apa yang sudah dikatakan atau dijanjikan. Sebagai seorang karyawan Kristen yang harus berkata benar, setiap perkataan atau janji yang kita ucapkan harus ditepati.

Demi Allah yang setia, janji kami kepada kamu bukanlah serentak “ya” dan “tidak”. Karena Yesus Kristus, Anak Allah, yg telah kami beritakan di tengah2 kamu, yaitu olehku dan oleh Silwanus dan Timotius, bukanlah “ya” & “tidak”, tetapi sebaliknya di dalam Dia hanya ada “ya”. (2 Kor. 1:18-19).

f. Taat pada kelompok

Taat kpd kelompok berbicara soal dapat bekerja sama di dlm kelompok kerja di mana kita berada. Seharusnya sifat “garam” yg mudah melebur dalam lingkungannya ada pada setiap karyawan Kristen. Karyawan Kristen harus dapat bergaul dan melebur dengan lingkungannya tanpa harus kehilangan warna kristianinya ataupun menjadi sombong dan sok rohani. Karyawan Kristen harus dapat bekerja sama dengan orang lain tanpa meremehkan dan menganggap diri sendiri lebih pandai dan tidak memerlukan orang lain. Paulus memberikan contoh bagaimana ia menyesuaikan diri di berbagai lingkungan yang ia masuki, tanpa harus melanggar hukum-hukum Tuhan.

Demikianlah bagi org Yahudi aku menjadi seperti orang Yahudi, supaya aku memenangkan orang2 yahudi. Bagi orang2 yg hidup di bawah hukum Taurat aku menjadi seperti orang yg hidup di bawah hukum Taurat, sekalipun aku sendiri tidak hidup di bawah hukum Taurat, supaya aku dapat memenangkan mereka yg hidup di bawah hukum Taurat. Bagi orang2 yg tidak hidup di bawah hukum Taurat aku menjadi seperti orang yg tidak hidup di bawah hukum Taurat, sekalipun aku tidak hidup di luar hukum Allah, karena aku hidup di bawah hukum Kristus, supaya aku dapat memenangkan mereka yg tidak hidup di bawah hukum Taurat. Bagi orang2 yg lemah aku mejadi seperti orang yg lemah, supaya aku dapat menyelamatkan mereka yg lemah. Bagi semua orang aku telah menjadi segala-galanya, supaya aku sedapat mungkin memenangkan beberapa orang dari antara mereka. (1 Kor. 9:20-22).

3. Batasannya adalah TAKUT AKAN TUHAN

Hai hamba2, taatilah tuanmu yg di dunia ini dlm segala hal, jangan hanya di hadapan mereka saja untuk menyenangkan mereka, melainkan dengan tulus hati karena takut akan Tuhan. (Kol. 3:22).

Batasan ketaatan yang kita berikan adalah sejauh masih dalam koridor “takut akan Tuhan”. Seorang karyawan Kristen tidak harus taat membabi buta dalam arti disuruh mengerjakan sesuatu yang salahpun juga harus taat. Bilamana ada sesuatu yang bertentangan dengan firman Tuhan, seorang karyawan Kristen tidak perlu menunjukkan pertentangan sikap, nilai, pendapatnya dengan cara-cara yang kasar. Kita harus mencari cara yang bijak untuk menyatakan kebenaran firman Tuhan yang kita yakini, agar kebenaran itupun diterima juga oleh orang lain.

C. BEKERJA DAN TUHAN

Hal yg sering diabaikan oleh karyawan kristen pada umumnya adalah memisahkan dunia kerja dengan keimanannya. Itulah yg seringkali kita lihat dan saksikan dibanyak instansi. Kita sudah melihat kebenaran Firman Tuhan dari Kolose 3:22-25 untuk dijadikan sebagai etos kerja kristiani.

· Taatilah tuanmu dengan tulus hati karena takut akan Tuhan.

· Perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan.

· Dari Tuhanlah kamu akan menerima bagian upahmu.

· Yang berbuat salah akan menanggung akibatnya karena Tuhan tidak pandang bulu.

1. Dari Tuhanlah kamu akan menerima bagian upahmu !

Sesuai dengan janji Tuhan yg terucapkan dalam Ulangan 28:8, 12-13. Oleh karena itu, kesetiaan kerja yang kita kerjakan “seolah-olah untuk Tuhan” itu dengan iman harus dipahami bahwa Tuhan yg setia itu terhadap janjiNya itulah yg memberkati.

2. Kristus adalah Tuan dan kamu hambaNya !

Sikap dan karakter hamba bukan berarti sikap yang merasa dirinya tida berharga dan tidak berarti, melainkan sikap dan karakter yang selalu melayani, mengutamakan orang lain, rendah hati, tidak sombong, dan mau bekerja keras. Itulah sebabnya kita harus meletakkan kebenaran Allah sebagai dasar yang utama di dalam kehidupan kita dan kita harus lebih taat kepada Tuhan dari pada manusia (Matius 6:33).

3. Yang berbuat salah akan menanggung akibatnya !

Tidak ada komentar: