Kamis, 14 Mei 2009

Suatu hari di Wisma Yasmin

moment 6/5/2009, di sebuah camp Gunung Pancar - Sentul
Ketemu dan berbagi dengan hamba Tuhan dalam kesaksian. Sungguh menyedihkan mendengar suatu kisah-kisah yg menyanyat hati tatkala mendengarkan kesaksian mereka. Aku mendengar dengan antusias hingga aku tak sabar untuk segera urun bicara untuk menambah semarak kesaksian yang sudah ada. Hal ini tidak terjadi begitu saja, tetapi oleh karena kami mendengarkan suatu cerita yang diceritakan oleh salah seorang hamba Tuhan. Hamba Tuhan tersebut menyangsikan ketulusan para hamba Tuhan yang ada oleh karena ia merasa dan mengukur dari apa yg dialaminya. Bahkan hebatnya lagi dia memberikan persentasi dari keseluruhan hamba Tuhan yang ada. Dia sebenarnya tanpa terasa atau memang sengaja memperkeruh suasana dengan cara mendiskualifikasikan dirinya. Dan ukuran ini dipakai untuk mengukur banyak hamba Tuhan. Dia mengatakan bahwa banyak hamba Tuhan dewasa ini sembunyikan dirinya di balik statusnya. Mengaku hamba Tuhan padahal ia tidak bisa bekerja, malas bekerja, bahkan tidak mau bekerja. Mendengar hal itu tergodalah saya untuk mengkisahkan sebuah pengalaman yang tidak pernah terlupakan. Berangkat dari sebuah kesombongan bahwa saya ingin bekerja dulu kumpulkan uang lalu pelayanan. Hal ini berkaitan dengan sebuah keputusan saya ingin melayani Tuhan dan menyelesaikan study di seminari. Tuhan injinkan saya bekerja, namun tidaklah lama hanya satu bulan setengah saja di perkapalan PERTAMINA. Tahun 1995-1996 saya kecewa dan meninggalkan Tuhan. Tuhan tuntun melalui istri saya tercinta (DAVIT UTAMI)untuk aktif kembali dalam pelayanan. Ada seorang teman juga yg berjasa dalam hidup saya, yaitu : Sien sien (Petrus Simon) dia pernah berkata bahwa saya akan sulit cari makan jika tidak menyerah dan layani Tuhan. Selanjutnya dia memperkenalkan saya dengan seorang pemberi kesempatan, namanya Yeremia christian (belakangan ia berganti namanya menjadi Yosua christian). Beliau sangat berjasa untuk mengembalikan saya keladang Tuhan. Sampai ia membuka pintu untuk mengalami banyak peristiwa bersama Tuhan yang memuliakan hidup kami. Ada satu peristiwa penting yang ingin saya ceritakan disini adalah katika saya malam itu mengenang suatu hari yang ingin saya rayakan, yaitu hari ulang tahun.Malam itu 22 Juli 2007,kami berdoa dalam kedukaan yg harus kami alami siang tadi. Anak kami berangkat ke sekolah TK dengan sarapan seadanya dan uang sakunya hanya tinggalRp.1000 dan itulah uang yang ada pada kami. Siang hari kami bersihkan kaleng roti kong guan yang kami jadikan tempat kami menyimpan beras. Ada segenggam beras saja sisanya. Kemuadian ada sisa kacang hijau yang pernah kami masak menjadi bubur beberapa waktu yang lalu. Kedua bahan itu kami masak dan jadikan bubur nasi campur kacang hijau ditambah sisa gula pasir yang ada. Sementara itu kami juga sudah kehabisan air yang biasanya kami beli. Terpaksa airnya kami pakai air sumur. Air sumur kami jika dimasak berlendir. Yah lumayanlah bubur kami sempurna lengketnya. Oh ya lupa sedikit. Untuk menambah dramatisnya, tidak lupa juga bahwa kompor minyak yg kami gunakan telah habis minyaknya. Akhirnya saya terpaksa untuk menarik sumbunya itu keluar lebih panjang supaya tetap terjaga nyala apinya. Hasilnya panci jadi lebih hitam dari biasanya. Ah lengkap sudah penderitaan kami. Malam itu kami berdoa menyesali kenapa kami harus menjalani kehidupan seperti ini. Saya besok berulang tahun dan malam ini saya sudah tidak tahu lagi apa yang akan kami makan, minum, uang sekolah dan sebagainya. Saya tidak berani memempertaruhkan kehidupan untuk masa depan dalam doa karena untuk besok saja saya sudah ngga tahu lagi. Saya marah dalam doa sambil mengutip doa Ayub soal hari lahir. Lebih baik tidak pernah ada dalam kehidupanku. Jika aku harus menderita jangan bawa anak dan istri jga merasakannya. Itu tidak adil namanya. Istriku minta aku berdoa mohon ampun kepada Tuhan. Memang saat seperti itu semua kesalahan terbayang dengan jelas. Inilah cara Tuhan menolong kita untuk mengingat kesalah untuk diakui dan diampuni (disucikan 1 Yoh. 1:9). Kami memilih tidur untuk menghilangkan satu rasa bersama, yaitu : LAPAR. Keesokan harinya seorang murid Tuhan yang menjadi murid SOM datang pagi-pagi benar waktu itu. Kami pun sadar bahwa kami ternyata masih hidup di bumi dan belum sampai di sorga. Beliau seorang karyawan BPPT hujan buatan namanya DJOKO GUNAWAN. Seorang joko yang berguna dan menawan (ini tulus kok). Hari itu ia mengatakan bahwa semalam ia berdoa seperti biasanya, namum Tihan memperlihatkan di dalam doanya sebuah keluarga yang sedang berdoa dan keluarga itu ialah kami. Luar biasa kami melihat sebuah tangan yang memeliharakan hambaNya. Dari pengalaman ini kami didewasakan oleh Tuhan untuk memasuki kasih karunia demi kasih karunia selanjutnya (Yohahes 1:16). Semoga kisah ini bisa menguatkan saudara/i yang sedang berada di dalam ketidak pastian. Dia tidak pernah berubah dahulu sekarang dan sampai selama-lamanya (Ibrani 13:8). HALELUIA

Tidak ada komentar: