Sabtu, 08 Mei 2010

"Merencanakan keuangaN"


Tulisan ini berangkat dari hasil membaca tulisan seorang teman di sebuah harian umum KOMPAS. Teman saya itu bernama Harris Turino, seorang yang berhasil mempraktekan apa yang dipelajarinya dan mencoba untuk berbagi kisah dari pengalamannya. Saya memulai dengan mengutip statement yang perlu diresponi.
“Perencanaan keuangan sebenarnya merupakan aktivitas mutlak yang harus dilakukan oleh setiap orang dan inilah yang akan membedakan antara kelompok orang-orang yang selalu terjebak oleh kesulitan likuiditas dan kelompok orang-orang yang bisa menikmati hidupnya.”
Membaca statement diatas dalam perspektif teologis praktis sangat perlu untuk menjembatani keterlanjuran masuknya paradigm yang dipropagandakan oleh kaum spiritual dewasa ini. Baik oleh para rohaniwan maupun guru spiritual yang mewartakan bahwa tahun ini menjadi tahun kelimpahan berkat. Bahkan, baru-baru ini ada semacam propaganda rohani (Kristen) di Senayan yang mengajak umat untuk masuk ke SIKLUS : URAPAN KEUANGAN TUHAN. Umat diminta untuk mempercayai langkah-langkah yang akan membawa umat kepada kelimpahan berkat yang berlipat-lipat ganda.
Setidaknya ada 7 langkah yang dimuali dengan menyerahkan uangnya, kemudian masuk kelangkah kedua: menerima mujizat berkat seratus kali lipat (Kej. 26:12-14). Ketiga: Hidup bebas dari hutang (Ul. 28:12-13). Keempat: Malaikat akan mendahui untuk memimpin (Kel.23:20). Kelima: Menjadikan musuhnya menjadi musuh Tuhan juga (Kel.23:22). Keenam: Tuhan akan menjauhkan sakit-penyakit (Kel. 23:25). Ketujuh: Tuhan akan memerintahkan berkat kepada siapa yang melakukan langkah pertama tadi.
Propaganda seperti ini tidak ubahnya dengan iklan dari media TV yang mengatakan bahwa tahun ini adalah tahun keberntungan atau kelimpahan. Untuk mengetahui keberuntungan itu, maka prasyaratnya adalah REG SPASI , dan kirim ke…
Propaganda seperti ini jelas sangat menyesatkan dan seringkali menjerumuskan (orang-orang yang selalu terjebak oleh kesulitan likuiditas) dalam pengharapan yang kosong. Tuhan Sang pemberi berkat berkata dalam Amsal 10:22, “Berkat TUHANlah yang menjadikan kaya, susah payah tidak akan menambahinya.” Meskipun ayat ini mengindikasikan bahwa berkat itu datang dari Tuhan, tidak berarti kita mengabaikan tugas dan tanggung jawab akan keberadaan kita di dunia, yaitu mengusahakan bumi agar mengeluarkan hasilnya (Kej.2:15). Selain dari pada itu, dalam Perjanjian Baru Rasul Paulus mengatakan: “jika seorang tidak mau bekerja, janganlah ia makan, (2 Tes.3:10-12).” Berkat Tuhan yang menjadikan kita kaya, merupakan sikap hati untuk tunduk kepada Tuhan atas semua pencapaian dan bukan prasyarat untuk menjadi kaya.
TUHAN tidak pernah menjanjikan semua umatnya menjadi kaya dalam materi hingga berkelimpahan apa lagi tanpa bekerja. TUHAN selalu memenuhi kebutuhan kita dan sedikit keinginan dari setiap doa yang kita naikan (sesuai dengan kehendakNya). Dia adalah gembala yang baik (Yoh. 10:11 Bdgkn Maz. 23) untuk menuntun kita dalam memenuhi (setidaknya - 5) kebutuhan dasar menurut teory Abraham Maslow.
Pemenuhan ke-5 kebutuhan dasar (Fisiologis, keamanan & keselamatan, social, penghargaan –cinta, aktualisasi diri) ini menghantar setiap pribadi untuk menjadi KAYA secara holistic. Inilah yang Tuhan rencanakan dalam seluruh kehidupan umat manusia, sehingga manusia mampu mengukir ungkapan syukur atas segala berkat Tuhan. Jadi, bekerja dan merencanakan penggunaan hasil kerja itu memang mutlak perlu (agar bisa masuk ke dalam kelompok orang-orang yang bisa menikmati hidupnya).
Tuhan Yesus dalam pengajaranNya kepada siapa yang menjadi pengikutNya, mengatakan:
Lukas 14:28-30, “Sebab siapakah di antara kamu yang kalau mau mendirikan sebuah menara tidak duduk dahulu membuat anggaran biayanya, kalau-kalau cukup uangnya untuk menyelesaikan pekerjaan itu? Supaya jikalau ia sudah meletakkan dasarnya dan tidak dapat menyelesaikannya, jangan-jangan semua orang yang melihatnya, mengejek dia, sambil berkata: Orang itu mulai mendirikan, tetapi ia tidak sanggup menyelesaikannya.”
“Salah satu faktor yang paling menentukan keberhasilan pencapaian tujuan keuangan adalah komitmen dan ketertiban kita mematuhi strategi yang sudah ditentukan. Perencana keuangan profesional dari dunia perbankan bisa dilibatkan untuk menata tujuan keuangan kita.”
Berita propaganda yang mendorong keberhasilan pencapaian tujuan keuangan sangat diperlukan untuk membangkitkan motivasi atau mendorong semangat pencapaian kebutuhan Fisiologis (keinginan untuk memiliki). Namun demikian, yg harus diwaspadai adalah kebenaran dari isi berita propaganda tersebut. Sehingga kita “luput” dari jerat yang menyesatkan melalui iming-iming yang ditawarkan para pembawa berita. Pengetahuan, disini mutlak diperlukan untuk menata tujuan keuangan yang ingin kita capai.
Amsal  19:2 Tanpa pengetahuan kerajinan pun tidak baik; orang yang tergesa-gesa akan salah langkah.
Akhirnya, ketika “hikmat” digunakan, maka kita sedang menunjukan rasa takut kepada Tuhan (Amsal 1:7).Amin

Tidak ada komentar: